RESENSI BUKU BIOGRAFI R. A. KARTINI
Pengarang : Sitisoemandari Soeroto
Penerbit : PT Gunung Agung
Tahun terbit : 1979
Cetakan : kedua, tahun 1979
Tebal : 491 halaman
Mempelajari sejarah, utama nya, sejarah pahlawan wanita Nasional, akan memberikan asupan semangat juang dan Renungan yang menjadikan berpikir lebih cerdas, akan penting nya, belajar ilmu pendidikan bagi kaum perempuan maupun laki-laki.Buku yang berjudul Kartini sebuah biografi, menceritakan tentang perjuangan seorang wanita keturunan bangsawan, untuk meningkatkan derajat wanita yang tidak hanya berada di lingkup rumah, melainkan kan juga berada di lingkup sekolah, bahwa setiap manusia berhak menunmen ilmu, baik kaum laki-laki maupun perempuan. Di dalam buku ini, kisah perjuangan emansipasi wanita yang telah di perjuan kan RA. Kartini.
R.A. Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 atau menurut penanggalan Jawa 28 Rabiuulakhir 1808, sebagai anak ke-5 dari keluargaR.M. Sostronigrat,Kepala distrik Mayong.Pada tahun 1881,waktu katrini berumur 2 tahun, ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara.Kartini mempunyai dua adik Roekmini dan Kardinah yang ketiga saudara itu menjadi ‘Tiga Serangkai”.Kartini paling cerdas,periang penuh inspiratif dan akal baru yang menjadi pemimpin dari adia-adiknya.Kartini sekolah di Sekolah Rendah Belanda (Europese Lagere School), dan menjadi murid yang paling cerdas diantara pesaing orang anak Belanda.Pada usia 12,5 tahun, kartini harus tunduk kepada adat-kebiasaan kuno, dan harus dipingit: dikurung di dalam rumah tanpa hubungan sedikitpun dennen dunia luar, sampai ada yang memboyongnya until menjadikan nya isteri.
Selama empat tahun Kartini di kutung seorang diri di Kabupaten yang seolah-olah hidup di neraka, yang harus menjadi puteri-bangsawan yang sejati yaitu bicara yang halus dan lirik, tidak boleh tertawa, berjalan perlahan, dan menunduk kan kepala setiap orang yang lebih tua lewat. Kartini sering kali melanggar tata cara tersebut, yang sakit sukar menyesuaimen diri. Kartini mengadakan perubahan yang betul-betul revolusioner, yaitu dengan tegas membebaskan semua adik-adiknya sampai yang papali kecil, dari segala etika feodal yang menurut tradisi, wajib mereka berikan kepada kakak tertua.
Selama empat tahun Kartini di kutung seorang diri di Kabupaten yang seolah-olah hidup di neraka, yang harus menjadi puteri-bangsawan yang sejati yaitu bicara yang halus dan lirik, tidak boleh tertawa, berjalan perlahan, dan menunduk kan kepala setiap orang yang lebih tua lewat. Kartini sering kali melanggar tata cara tersebut, yang sakit sukar menyesuaimen diri. Kartini mengadakan perubahan yang betul-betul revolusioner, yaitu dengan tegas membebaskan semua adik-adiknya sampai yang papali kecil, dari segala etika feodal yang menurut tradisi, wajib mereka berikan kepada kakak tertua.
Membaca buku ini kita dapat mengetahui secara gamblang tentang sisi kehidupan Kartini yang tadinya misterius dan tidak dapat dimengerti. Itu sebabnya beberapa pandangan mengenai Kartini perlu ditinjau dan dikoreksi kembali. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, pembaca pun terhanyut ke dalam cerita karena susunan kalimat yang yang mudah dipahami oleh seluruh pembaca dan ada foto-foto semasa kehidupan Kartini. Di samping itu ada cerita yang membuat pembaca tertawa sendiri, kenakalan yang dilakukan oleh tiga serangkai semasa kecil mereka.Buku Kartini sebagai Biografi ,ukuran penulisan yang terlalu kecil,gambar yang tidak berwarna dan cover halaman yang kurang menarik pembaca.
Di era teknologi informasi sekarang ini yang penuh dengan pengaruh-pengaruh negatif, di tengah kemerosotan moral dan berbagai kegalauan yang mengancam keutuhan bangsa dan negara, buku ini sangat menginspirasi pembaca dalam menumbuhkan nasionalisme. Karena buku ini mengingatkan pembaca tentang renungan makna ucapan Kartini: “Kami tidak mencari kebahagiaan sendiri, melainkan kebahagiaan rakyat kami. Kami tidak mengharapkan bunga mawar untuk kami sendiri!. Buku ini patut dibaca oleh para pemimpin bangsa, elit politik dan segenap putra-putri Indonesia, agar dapat (dan mau) meneladani jiwa dan semangat Kartini, sebagai seorang perintis bangsa. Dialah Putri Sejati serta Bunga Bangsa yang tulus ikhlas membaktikan seluruh hidupnya, tanpa pamrih, demi kemajuan Negara dan rakyat yang dicintainya sepenuh hati, jiwa dan raga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar